Skip to main content

AsBak (Asli Bangsaku)


            Kutatap hamparan padi yang luas itu. Menyimpannya daalm memori agar aku bisa mengingat setiap bentuk desaku ini. Desa yang sebentar lagi akan aku tinggalkan. Kalian tahu kenapa? Karena aku akan melanjutkan sekolahku ke kota. Jauh memang, tapi mau gimana lagi.
            “Ingat ya Jum, nanti kalau udah sampai kota jangan lupakan tanahmu. Kalau gak bagus jangan ditiru. Paham?” Nasehat dari bibiku yang ia sampaikan padaku saat membantuku mengemas barang.
            Sekolahku yang baru itu adalah sekolah elit katanya dan bertaraf Internasional. Aku bisa masuk sekolah itu karena aku mendapatkan beasiswa. Untuk model anak seperti aku ini gak akan mampu membayar sekolah yang katanya bertaraf internasional itu. Senang? Pasti senang. Karena mimpi yang tak berani diimpikan menjadi nyata pada alamku.
            “Wahhh...jadi ini sekolah yang bertaraf internasional itu? Apik tenan..” Kagumku yang baru saja memasuki kawasan sekolah baruku. Seperti mimpi yang nyata, ya memang nyata. Banyak sekali adegan yang hanya bisa aku lihat di Tv dulu, kini aku berada pada aedgan itu. Ya, aku bisa melihat mereka yang hidupnya serba dalam kemewahan. Yang cewek layaknya sang putri dan yang cowok layaknya raja. Dan aku layaknya alien naysar. Karena aku merasa penampilanku jauh beda sama mereka yang ada disini.
            “Baiklah ini kelasmu. Sekarang kamu perkenalkan dirimu terlebih dahulu.” Pinta Guru baruku yang bernama Mam Alice. Aku mempernalkan diriku. Ya walaupun aku bukan murid pindahan alias murid baru, di sekolah ini seperti ini. Hanya langsung pada perkenalan dan belajar. Tapi, entah kenapa saat aku menyebutkan namaku mereka semua menertwakanku. Apakah ada yang salah? Atau namaku aneh?
            Pelajaran pertama berjalan lancar. Tapi,aku heran pada siswa yang lain. Sedari tadi mereka cengar-cengir. Aku jadi heran. Padahal materi yang dibahas itu tentang logaritma. Dan yang pasti itu adalah matematika yang dari tadi menurutku gak ada yang lucu.
            “Eh kamu tadi siapa namanya?” Tanya seorang siswa yang berada di depanku.
            “Juminten. Kamu?” Tanyaku seraya mengulurkan tanganku. Dan seketika itu gadis yang di depanku itu tertawa. Adakah wajah Tukul arwana pada diriku. Aku merasa aku tidak sedang melawakkan diri.
            “Itu nama apaan sih? Norak banget. Emangnya orangtuamu gak punya calon nama yang lebih bagus waktu kamu lahir?” Ucap gadis itu setelah tawanya berhenti. Dan aku sekarang yakin bahwa mereka tadi semua itu tertawa karena namaku.
            “Mungkin orangtuaku menganggap namuku ini punya makna tersendiri.” Jawabku selembut dan seramah mungkin. Menggubris semua rasa buruk yang ada pada hatiku saat ini. Dan gadis itu tertawa lagi. Dan sekarang yang tertawa bukan hanya gadis di depanku. Tapi juga seseorang yang ada di belakangku.
            “Aduh kamu ini. Ya nama pasti punya makna tersendiri. Kamu ini dapat beasiswa salah alamat ya?” Sahut anak laki-laki itu.
            “Fred..kamu dicariin kettos.” Ucap salah seorang murid yang baru saja masuk kelas.
***
            “Lomba Kreatifitas Modern? Maksudnya?” tanyku pada diriku sendiri. Ya krena aku gak tahu mau bicara sama siapa. Sejak aku masuk ke sekolah ini aku belum punya teman. Karena aku tahu bahwa sekolahku yang elit ini masih menganut sistem kasta. Kenapa sistem itu masih terus manusia anut? Adakah manfaatnya?
            “Kamu disuruh buat karya mau apa saja yang bisa kamu pragakan di pentas kreatifitas. Baik itu seperti baju, topi atau tas sekalipun. Dan bahan dan modelnya bergaya modern.” Sahut seseorang yang tak ku ketahui. Dan aku hanya ber-oh ria mendengar penjelasan itu. Dengan ragu aku memutar badanku kearahnya. Ternyata itu anak lelaki yang misterius di kelasku. Karena dia selalu diam. Saat semua siswa menertawakanku dia lah yang baik. Tapi, mungkin kebaikannya itu karena sifat diamnya itu.aku yakin dia sama seperti yang lain.”Kamu mau ikut?” Tanyanya lagi. Aku hanya menjawab dengan anggukan.”Apa yang akan kamu tampilakan?” Saat itu aku ragu haruskah aku memberi tahunya? “Kalau kamu mau ikut, aku boleh join sama kamu?”
            “Apa? Kamu gak salah?” Tanyaku heran. Dan dia menjawabnya dengan pasti. Dan dari saat itulah mainsetku tentangnya yang buruk.
            Fredly itu namanya. Kami akan bekerja sama dalam event yang akan diselenggarakan dalam waktu sebulan lagi. Dia berniat membuat perlengkapan sekolah. Dan yang dia ingin dia mau membuat tas dan sepatu. Dan aku setuju. Untuk model dan bahannya aku yang mendesign. Dan dia setuju untuk membuat modelnya dengan gaya terbaru ala korea. Karena aku yakin segala sesuatu yang berbau Korea sangat mencolok dikalangan pelajar bahkan para pemuda. Dan untuk bahannya kami gunakan batik. Awalnya dia menolak karena batik itu udah kuno. Tapi, aku berusaha untuk meyakinkannya. Dan akhirnya ia setuju.
            Saat ini aku berada pada gedung yang mewah. Tempat yang akan menampilkan hasil karya-karya kami yang mengikuti lomba. Banyak sekali karya disana. Mulai dari dress yang berbahan yang menurutku bagus dan rata-rata semua karya yang telah aku lihat berbahan dari luar negeri. Ya, aku maklumi hal itu. Karena kebanaykan dari meraka yang mengikuti lomba ini adalah orang yang beruang. Sebenarnya Fredly juga beruang dan pada mulanya dia juga ingin menggunakan bahan yang berrasal dari luar negeri.
            “Kenapa harus impor? Walaupun ini bertemakan modern gak harus impor juga fred. Kita seharusnya sebagai generasi bangsa harus bisa menunjukkan bahwa negara kita ini juga punya kualitas yang bagus. Kalau kita pakai baran luar negeri terus barang dalam negeri siapa yang mau pakai? Kalau bukan kita yang memulai mencintai negeri siapa lagi? Kan gak mungkin orang yang terlebih dahulu. Pasti generasi yang sekarang.” Ucapku pada Fredly waktu itu. Dan Fredly hanya terdiam. Aku tidak tahu apa yang ia fikirkan. Tapi, semenjak dari situlah dia selalu mempersilahkan aku jika aku memiliki ide yang bisa mengangkat budaya bangsaku.
            Minder, saat ini yang aku rasakan. Tapi,tekadku sudah bulat. Aku harus maju. Mereka yang bangga menunjukkan barang luar negeri bagikumereka belumlah mencintai bangsa mereka sendiri. Bagiku mereka hanyalah plagiat. Aku tak bisa seperti ini. Aku harus buang rasa negatifku. Menang atau kalah itu biasa. Yang penting aku bisa memberitahu mereka bahwa negara kita juga punya aset yan harus kita perjuangkan. Bukan dikubur dan ditimbun dalam pasar tradisional. Tapi harus ditunjukkan pada pasar Internasional.
            “Mengapa anda menggunakan batik?” tanya salah seorang juri saat itu. Raut wajahnya membuatku takut. Dan itu juga menurunkan semangatku. Tapi,seketika tekadku muncul pada saat aku menjelaskan alasanku. Dan entah apa yang terjadi juri tu hanya menatapku dingin. Tapi,aku tetap pada tekatku.
            Saat ini mereka mengumumkan pemenangnya. Melihat situasi aku tak berani meyakinkan diriku untuk memperoleh kejuaraan. Tapi, setidakanya aku sudah berusaha menunjukkan yang menurutku bagus dan benar.
“Dan..untuk juara pertama dalam kontes ini diraih oleh kelompok 27..” Ucap mc. Nomor peserta itu adalah milik aku dan Fredly. Tapi, apakah itu benar. Aku menyuruh Fredly menepuk pipiku dan mencubitnya.
            “Awwww....sakit Fred. Apa sakit? Berarti ini bukan mimipi.”
            “Benarkah sakit? Coba aku? Cubit coba.” Pinta fredly yang juga seakan tak percaya pada kemenangan ini. Tapi, itulah kenyataan bahagia yang harus kami terima. Kami jadi pemenang dan akan menjadi perwakilan untuk babak selanjutnya di Hawai.

***

Comments

Popular posts from this blog

Asrama Putri Unesa (Review)

Assalmualaikum Wr. Wb Hello everyone...! Hm, udah lama gak nge-post nih. Well, kali ini aku akan membahas rumah hunian kedua ku. Seperti apa ya? Kamu baru lulus SMA ya? Kuliah? Dimana? Udah nemu tempat yang sesuai untuk hidup? Nah! kebetulan banget kamu buka blog ini. Bagi kamu yang sedang meramb ah ke dunia perkuliahan , apalagi milih kuliah di Surabaya, pas banget nih kalau kamu memilih untuk tinggal di asrama.  Kenapa harus asrama? Nge-kos lebih enak. Yakin? Iya sih enak. Tapi, lebih enak di asrama. Kenapa begitu?  Berikut beberapa alasan yang mungkin akan memberimu beberapa pertimabangan kedepannya untuk kamu yang lagi bingung untuk tinggal dimana? 1.       Asrama merupakan hunian yang nyaman. Kos juga, tuh. Eits...tunggu dulu! Selain nyaman, asrama juga merupakan tempat yang aman. Kalian pasti bukan remaja yang kudet mengenai tindakan dan kasus kriminal, bukan? Gak takut hal-hal seperti itu?  Nah! Di asrama keamanan ...

100 dorayaki

Terkadang aku ingin terabang tinggi nan jauh lalu mendarat dimana saja yang aku inginkan. Terkadang aku ingin pula mendapati dunia pengkabul harap hingga tak perlu lagi aku bersusah payah untuk sekolah, kerja atau bahkan bersaing dengan hal-hal yang hanya saja akan membuat aku berada pada posisi paling terpojokkan. Lalu pada suatu ketika aku terbang-terbang untuk jatuh pada tanah yang sama dan membawaku ke alam sadar bahwa keinginanku itu hal yang konyol.             Lalu pada hari yang selalu menuntutku untuk berada pada ruang sekolah mini ini seseorang berkata di hadapan banyak murid.             “Bu, kenapa hidup terkadang susah lalu senang dengan sendirinya? Bahkan terkadang saya merasa takut akan masa depan.” Ucap seorang anak laki-laki yang berada di baris depan.             “Itu lah hidup, susah dan senang itu ...