Terkadang aku ingin terabang tinggi nan jauh
lalu mendarat dimana saja yang aku inginkan. Terkadang aku ingin pula mendapati
dunia pengkabul harap hingga tak perlu lagi aku bersusah payah untuk sekolah,
kerja atau bahkan bersaing dengan hal-hal yang hanya saja akan membuat aku
berada pada posisi paling terpojokkan. Lalu pada suatu ketika aku
terbang-terbang untuk jatuh pada tanah yang sama dan membawaku ke alam sadar
bahwa keinginanku itu hal yang konyol.
Lalu
pada hari yang selalu menuntutku untuk berada pada ruang sekolah mini ini
seseorang berkata di hadapan banyak murid.
“Bu,
kenapa hidup terkadang susah lalu senang dengan sendirinya? Bahkan terkadang
saya merasa takut akan masa depan.” Ucap seorang anak laki-laki yang berada di
baris depan.
“Itu
lah hidup, susah dan senang itu adalah jodoh yang harus dan memiliki proses.
Jika kita hanya memikirkan kesenangan kita tidak akan mengenal apa itu sedih
dan sebaliknya.”
“bukankha
lebih baik jika kita senang terus, Bu? Kita bisa tertawa dan senang setiap hari,
bukan?”
“Semua
orang pun ingin begitu. Namun, ketika kau merasa senang terus kita tidak akan
menemukan keistimewaan hidup. Seandainya kita semua bisa melakukan sesuatunya
dengan sendiri, kita tidak akan mengenal sosialisai karena kita bisa melakukan
segalanya dengan sendiri.”
Setelah
dari itu aku mulai berfikir, seandainya aku bisa terbang atau bahkan semua
orang bisa terbang, mungkin aku dan kita tidak akan pernah tahu bagaimana
bentuk benda yang dinamakan pesawat itu. Dan apakah mungkin kita tahu arah mana
yang akan dituju untuk mendatangi suatu tempat?
“Baikalah,
sekarang ibu ingin tahu harapan seperti apa yang akan kalian dapatkan dan
lakuakan dikemudian hari? Tulis sesuka hati kalian impian apa saja, mau itu
sesuai logika ataupun tidak. Kalian bebas berimajinasi hari ini” Pinta guru
kami di hari lain.
Mereka
maju satu per satu menceritakan setiap keinginan yang mereka impikan. Kemudian
tibalah giliranku. Aku membacakan keinginanku denga penuh semangat. Namun, baru
ku sadari setelah menyelesaikan cerita mereka yang aku dengarkan ceritanya
dengan baik mengolok-olokku. Menatapku remeh, namun aku tetap dengan keyakinan
berdiri dengan berani. Setelah kembali ketempat duduk ku pun mereka melirikku
dengan tatapan remeh yang kemudian aku balas dengan ucapan terimakasih yang
tulus selayaknya mereka sedang mengacungkan jempol tanda hebat kepadaku.
“Hey,
gendut! Kamu pingin makan 100 dorayaki di Jepang?” Tanya sesorang dari temanku
suatu hari. Aku pun menganggukkan kepala seraya mengaminkan perkataannya. Yang
kemudian disambut mereka dengan gelak tawa yang sangat meriah. Aku merasa
berada di sebuah konser dan aku lah pengisi acaranya.”Mimpimu ketinggian.
Jangankan makan dorayaki, makan permen batangan yang harganya t seribu rupiah
saja kamu tidak sanggup. Mau makan dorayaki.” Anak laki-laki itu tertawa
kembali bersama gerombolan kawannya.
Bukannya tidak pernah aku berfikir
begitu, bahakan sering. Tapi, satu hal yang aku tahu. Aku ingin dan aku yakin.
Walaupun sekolahku ini dibilang jauh dari biasa, aku masih tetap berusaha untuk
menjadikan seorang daku menjadi yang luar biasa. Ya, sekolahku hanya berbentuk
gubuk kecil yang beratapkan daun-daun kelapa, hebat bukan? Karena sekolahku
ini, bagiku sekolah penenang jiwa. Aku bisa melihat alam sekelilingku jika aku
bingung untuk mencari inspirasi. Bukan hanya itu, orangtuaku juga hebat. Mereka
selalu mengais tanah dan selalu menghasilkan beras untuk kami makan dalam
sebuah bentuk nasi. Coba bayangkan jika tidak ada bapakku aku mungkin tidak
akan mengenal apa itu padi dan aku juga tidak akan mengenal pakaian jika ibuku
tidak pandai dalam jahit-menjahit.
“Jo,
awakmu iki nduk kenapa sukanya gambar-gambar seperti ini? Lebih baik kamu
belajar, biar kamu dapat ilmu.” Nasehati ibuku.
“Ibu,
ini juga belajar. Belajar menggambar. Suatu saat aku akn bertemu tokoh kucing
gendut yang seperti aku ini, Bu. Nanti dia juga akan memberikan aku 100
doryaki. Ibu doakanlah aku terus supaya aku bisa ke negerinya. Lalu membawakan
ibu dan bapak dorayaki. Jika perlu akan ku ajak kalian kesana.” Wanita yang tampak
lesu itu hanya tersenyum lemah mendengar perkataan anaknya. Mungkinkah itu bisa
terjadi dengan kondisinya yang seperti ini. Makan saja terkadang susah.
Fikirnya.
“Kamu
jangan terlalu banyak mengkhayal, Jo. Mendingan sekarang kamu mandi atau bantu
bapak manen.” Ucap wanita itu lagi.
“Mengkhayal
juga tidak apa-apa, Ibu. Asalakan anakmu ini tidak berbuat salah.” Jawabku
seraya bergegas mengambil topi sawah.
Disetiap
hariku selalu ku ucapkan impianku dalam setiap untaian doa. Aku tidak pernah
menyerah walau bahkan mereka dan orangtuaku selalu mengatakan aku ini
mengada-ngada. Aku memang tak berkomentar. Aku hanya mengaminkan setiap
perkatan mereka keetika mereka berkata,”Jono kau akan mendapatkan mimpi
konyolmu itu. Ketika kau berada di surga.” Yang selalu mereka katakan
dengan gelak tawa yang menggelegar. Selayaknya menonton acara opera yang tiada
henti kelucuannya.
Hingga
aku kini berumur 15 tahun, aku masih berada di desaku. Sampai suatu ketika aku
berfikir mungkin mereka benar jika aku tak bisa meraih impianku. Aku ini hanya
anak desa. Sudah untung bisa hidup dan makan nasi. Mau bermimpi mencari
dorayaki di negeri doraemon. Ya, walaupun umurku beranjak dewasa aku tak pernah
berhenti mengidolakan tokoh yang gendut satu ini. Mungkin karena kebanyakan
makan dorayaki. Fikirku. Lalu, akau memikirkan badanku yang terus saja gemuk.
Padahal makanku saja jarang tapi begitu banyak lemak dalam tubuhku ini.
Di
hari yang cerah itu, aku pergi ke pasar bersama ibuku. Senangnya melihat suasana
pasar yang ramai. Begitu banyak makanan. Permen, kue, lauk-pauk, udang, ayam,
sotong dan lain sebagainya. Tapi, walaupun semua itu sangat menarik dan ingin
sekaliku coba ibuku tidak pernah mengindahkan inginku. Karena yang akan kami
beli itu jauh lebih nikmat dan pastinya murah dari semua itu yakni ikan asin
atau bahkan kami membeli tempe yang bentuknya panjang dengan harga empat ribu.
Namun, jika ibu membeli di tempat langgananannya akan mendapatkan potongan
seribu rupiah. Sambil menunggu ibu yang sibuk mengantri untuk di layani
pedagang, mataku menjelajah sekeliling pasar.
“Ayo,
TTSnya di beli. Dapatkah hadiah jalan-jalan ke luar negeri.” Ucap salah seorang
pedagang di sisi yang lumyan jauh dari tempatku berada. Ke luar negeri?
Benarkah? Dengan harapanku yang polos, aku datang menghampiri pedagang TTS itu.
Baru aku ketahui mengapa celenganku tadi malam pecah secara tidak sengaja.
Mungkin, Koko ingin aku membelanjakan uangnya untuk ini. Fikirku.
“Ayo,
dek beli nanti kamu bisa jalan-jalan ke luar negeri.” Ucapnya. Aku tersenyum
girang di tempatku berdiri ini. Tak lupa aku mengaminkan kata-katanya tadi.
“Berapa,
Pak?” Tanyaku antusias.
“Murah,
Dek. Cuma lima ribu.” Segera ku keluarkan uang jajan yang selama ini aku
tabung. Aku menghitungnya dan hanya ada empat ribu dua ratus. Aku membutuhkan
delapan ratus rupiah lagi. Aku segerea berlari menuju ibuku untuk memint uang
seribu rupiah.
“Jangan
aneh-aneh, Jo. Mending beli makan saja.” Ibuku memang payah. Fikirku. Sudah tak
diberi tapi, diomeli. Tapi, aku tidak putus asa. Dengan susah payah aku
mencari-cari orang yang membutuhkan pertolonganku. Ya, aku melihat seorang
wanita yang dengan susah payah membawa barang belanjaannya. Kemudian dengan
harapan dari sinilah aku mendaptakan uang. Tapi, ibu itu hanya memberiku ucapan
terimakasih. Kerja pertamaku gagal. Tiba-tiba kulihat seorang kakek-kakek
sedang duduk di tengah jalan.
“kakek,
sedang apa anda di sini?” Tanyaku.
“Hey,
budak ingusan! Seharusnya kau membantuku untuk bisa bangun dari sini.” Dengan
cepat aku membantunya unutk segera bangun. Baru saja aku hendak pergi. “Hey ,
ingusan! Tunggu! Ini untukmu.” Dia memberiku selembar uang kertas. Baru saja
aku ingin mengembalikan dan ingin mengatakan aku tidak membutuhkan uang
sebanyak ini, tapi lelaki tua itu sudah pergi dari hadapnku entah kemana.
Segera aku bergegas ke tempat dimana TTS tadi itu di jual. Aku hanya berniat
meminjam uang yang dari kakek itu saja. Suatu saat akan aku kemablikan jika aku
bertemu dengannya.
“Darimana
kau dapatkan uang sebanyak ini, Jo? Kamu mencuri?” Belum aku membeli TTS yang
aku ingin, ibu sudah menjewer telingaku seraya menggeretku pulang. Alhasil,
uang itu diambil ibuku yang katanya akan ia kembalikan ke pemiliknya. Tapi, ibu
dan aku tidak menemukan kakek itu. Setiap kali kami bertanya siapa dan dimana
tempat kakek itu, mereka tidak tahu. Dengan terpaksa aku tidak bisa membeli TTS
itu. walaupun aku tidak bisa mengisi soal-soal TTS itu, untungnya desaku masih
punya rumah belajar yang buku-bukunya lumayan banyak. Ya, aku tak pernah absen
dari rumah belajar ini. Berusaha belajar dengan giat, agar aku bisa menggapai
mimpiku.
Acara
telivisi kali ini membuatku cemburu dengan segerombolan anak yang berjalan
menuju gerbang sekolah dengan seragamnya putih abu-abu. Seharusnya aku juga
bisa seperti itu. fikirku. Tapi, seharusnya itu tidak bisa ku alami dengan
latar belakang ekonomiku yang jauh dari jangkauan. Beberapa saat kemudian dalam
televisi itu aku melihat dan mendengar acara kuis dengan janji hadiah yang
fantastik. Jalan-jalan ke luar negeri. Aku langsung senang mendengar itu. Tapi
mungkinkah aku bisa mendapatka hadiah itu. Sedangkan aku hanya lelaki desa
biasa. Namun, sebelum orang menghalangi mimpiku aku bertekad mengikut sertakan
diriku dalam acara kuis itu. Apasalahnya?
Hari
itu dimana aku berada ditengah-tengah penonton. Menunggu pertanyaan dan
berharap agar dapat menjawab pertanyaan dengan baik. Sejauh ini semua
pertanyaan ini bisa ku jawaba dengan mudah karena kau pernah membaca mengenai
semua itu dari buku-buku di perpustakaan desaku. Hari ini juga aku merasa telah
dianugerahi sayap. Sayap untuk daku agar aku bisa berlabuh ke mana saja hatiku
mau. Siapa sangka akau bisa mengalahkan mereka yang berasal dari kasta
tertinggi menurutku.
Rasanya
seperti mimpi ketika kedua bola mataku menatap bandara Jepang. Rasanya seperti
mimpi ketika aku bisa menghirup hawa dingin di negeri ini. Rasanya dan rasanya
seperti mimpi. Tak banyak hal yang aku ketahui tentang Jepang. Tapi, yang pasti
aku sangat-sangat menginginkan untuk berada di negeri doraemon ini.
Kata
yang tepat saat ini adalah”Sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampui,”
kehadiranku di Jepang ternyata bukan hanya untuk menikmati keindahan Jepang. Kebetulan
saat itu juga diadakannya hari festifal dengan tema doraemon. Disaat itulah
seseorang yang memakai kostum doraemon menawarkan aku sebuah makanan yang
berwarna cokelat dan aku menyadari setelah 30detik berada di depan kue tersebut
bahwa itu adalah dorayaki. Hatiku bukan hanya dipenuhi bunga sakura ataupun
bintang-bintang bahkan hujan untung yang aku alami saat ini juga membanjiri
perasaanku. Tak segan-segan aku mengambil kue dorayaki itu dan memakannya
dengan begitu lahap hingga kue di nampan tadi habis tak tersisa. Setelah sadar
bahwa kuenya habis, sang doraemon tadi menawarkanku untuk membeli dorayakinya.
Kebetulan hari itu adalah hari festival mereka memberi potongan harga
besar-besaran. Tanpa berfikir panjang aku menggunaka uang hadiah untuk
liburanku untuk membeli 100 dorayaki. Setelah itu tak lupa aku meminta orang
yang pergi bersamaku ke Jepang untuk mengabadikan momen ini.
Bukan
hanya menikmati dorayaki saja. Aku juga pergi ke Akasuka. Di sini terdapat
rumah dan becak tradisional ala Jepang. Unik bukan main. Ternyata Jepang juga
memiliki becak tersendiri sebagai alat transportais. Bedanya jika di negara
Indonesia dikayuh , di Jepang di tarik oleh tukang becaknya.
Suatu
hari aku bertemu denagan salah seorang bagian yang mengadakan acara telekuis
kemarin. Tak disangka-sangka dia mengajakku unutk kerja bersamanya. Padahal aku
sudaha bilang bahwa aku tak punya ijazah SMP ataupun SD tapi, orang ini tetap
ngotot memperkerjakan aku. Karena biodata yang aku masukan untuk mendaftar di
acara telekuis yang aku sertakan bahwa aku sangat suka menulis komik, sehingga
membuat wanita yang bernama Sasuke ini memaksaku untuk membuat komik di Jepang
bersamaya.
Banyak
sekali hal-hal baru yang aku daptakan. Orangtuaku di desa menangis tersedu-sedu
saat aku pulang dari Jepang dan harus pergi lagi untuk waktu yang lama. Mereka
semua yang menghinakau kemarin juga ikut tersenyum melihatku yang bisa
mewujudkan impianku. Ya, semua ini bergantung pada usaha, doa, dan keyakinan
kalian. Ketika kalian menginginkan sesuatu itu jangan pernah kalian lepas.
Berusahalah setiapa hari demi mewujudkan itu semua. Karena pada akhirnya kalian
akan merasakan buah dari usaha yang kalian semai tadi.
Comments
Post a Comment