Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2015
Bukan hanya sekedar bintang Matahari memang cerah Bintang malam memang indah Bulan pada purnama juga tak kalah indah Pelangi setelah hujan juga menawan Tapi bukan mereka yang ada pada maksud Bukan mereka yang mengarsir cahaya semangat Tapi kalian Dunia terdekat hati dan jiwaku Pemancing segala rasa pada pusat hati Terkadang bintang itu menggerahkan Terkadang pula menuai kerinduan Kau itu adikku Pembangkit cahaya semangat Pada ragaku yang rapuh Peminat tawa pada gurauan Kau tahu Tak ada bintang secerah dirimu Akan ku bawa semuamu Pada puncak bahagia yang kau impikan Maafkan masa lalu Yang tak pernah berteman Doakanlah Masa hadapan menjalin kasih Miazela dedicated for her sisters

Life In A Dorm

( Chapter 1 ) Tinggal bersama-sama.Sebuah kaliamta yang tak pernah asing ditelinga kita. Bagaimana tidak, kita itu makhluk sosial pasti tinggal bersama-sama. Tapi, kalau tinggal bersama-samanya bukan sama orangtua gimana? Hayooo... Ya,seperti mondok, ngekos atau mungkin asrama? Bagaiaman menurut kalian? Males? Ogah? Atau mengasyikkan?             Itu semua tergantung sang pemilik hati. Setiap hati insan tidakalah sama. Jika memang sama itu takkan mungkin dalam skala 100%. Karena perbedaan itu pasti hadir menyapa setiap insan di alam ini. Bukan hanya dalah masalah hati tapi, juga dalam segala bentuk. Tapi, jangan risau pada perbedaan. Karena perbedaanlah yang mengajarkan hidup lebih mengerti dan memahami bantalan juang dalam hidup.             Oke, kita langsung saja. Mau tau namaku? Pasti kalian sudah tahu. Atau mungkin kalian buka blog ini, asal buka saja. Oh don’t do it...

AsBak (Asli Bangsaku)

            Kutatap hamparan padi yang luas itu. Menyimpannya daalm memori agar aku bisa mengingat setiap bentuk desaku ini. Desa yang sebentar lagi akan aku tinggalkan. Kalian tahu kenapa? Karena aku akan melanjutkan sekolahku ke kota. Jauh memang, tapi mau gimana lagi.             “Ingat ya Jum, nanti kalau udah sampai kota jangan lupakan tanahmu. Kalau gak bagus jangan ditiru. Paham?” Nasehat dari bibiku yang ia sampaikan padaku saat membantuku mengemas barang.             Sekolahku yang baru itu adalah sekolah elit katanya dan bertaraf Internasional. Aku bisa masuk sekolah itu karena aku mendapatkan beasiswa. Untuk model anak seperti aku ini gak akan mampu membayar sekolah yang katanya bertaraf internasional itu. Senang? Pasti senang. Karena mimpi yang tak berani diimpikan menjadi nyata pada alamku.   ...